Friday, 3 June 2011

Biografi Tokoh Idola


Yohanes Surya : Padi yang tergoda Fisika


Boleh jadi ia menghayati betul "ilmu padi". Pria kelahiran Jakarta, 6 November 1963, ini selalu cool dan rendah hati. Padahal, ia tak ubahnya Einstein kelahiran Indonesia.
Suaranya tipis, susunan kata-katanya selalu runtut. Ditambah kacamata minus dan tubuh tinggi semampai, Yohanes Surya Ph.D. begitu pas dengan predikatnya sebagai ilmuwan kawakan di negeri ini. Yo - begitu dia biasa disapa - jelas bukan sembarang orang. Gelar S1 Fisika diperolehnya dari FMIPA UI dengan predikat sangat memuaskan. Di usia 27 tahun, dia sudah meraih M.Sc. Fisika di College of William and Mary, Virginia, AS. Empat tahun kemudian, gelar Ph.D. direngkuhnya dari kampus yang sama. Hebatnya, dua gelar itu diembel-embeli predikat cum laude!
Tak kalah fenomenal, kiprahnya sebagai lokomotif Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI). Dua tahun terakhir, prestasi TOFI sedang meroket. Di Bali, Juli 2002, pada Olimpiade Fisika Internasional XXXIII TOFI menyabet tiga emas (dari total 20 yang diperebutkan), satu perak, dan satu perunggu. Sedangkan di Olimpiade Fisika Asia ke-4 di Bangkok, April 2003, mereka menyabet enam emas dan dua honorable mention, sekaligus "merampok" gelar juara umum!
Lucunya, Yo sebenarnya masuk Jurusan Fisika karena terpaksa. "Saat itu enggak ada pilihan lain," kata blasteran ayah Bandung dan ibu Ciamis ini.
Gairah turun naik
Ceritanya, selepas SMA kondisi ekonomi keluarga Yo sangat memprihatinkan. Ayahnya yang pensiunan tentara cuma punya warung kecil di Pulo kambing, Jakarta Timur. Tak heran enam kakaknya terpaksa tidak kuliah. Yo sendiri (anak ketujuh dari sembilan bersaudara) bisa kuliah melalui jalur PMDK. Meski begitu, batin Yo muda belum sepenuhnya gembira.
Bapaknya bilang, sarjana fisika paling banter cuma bisa jadi dosen atau guru. "Saya dari keluarga miskin. Kalau akhirnya jadi miskin juga, 'kan enggak ada perubahan," kenang Yo getir. Susahnya, tak ada pilihan lain. Akhirnya, dibantu bea-siswa Supersemar, jadilah ia mahasiswa UI.
Selama kuliah, gairah belajar Yo agak kempes. "Habisnya, dari tahun ke tahun, saya cuma ketemu rumus-rumus," imbuhnya diiringi tawa renyah. Padahal, waktu di SMAN 12, pelajaran fisika menjadi cinta pertamanya. "Pak Handoyo (mantan guru fisika Yo, kini almarhum - Red.) pintar menghubungkan berbagai gejala fisika dengan kejadian sehari-hari," kenang suami Christina (34) serta ayah Chrisanthy Rebecca (12) dan Marie Felicia (4) ini.
Walaupun masa SMA lebih manis ketimbang jadi anak kampus, ia tetap lulus UI dengan predikat "sangat memuaskan". Sempat menjadi guru SMA selama dua tahun, pada 1988 Yo mendapat beasiswa S2 di College of William & Mary.
Di kampus baru ini, minat fisikanya mekar kembali. Kesempatan untuk mempelajari intisari fisika, meneliti, dan membaca banyak buku dimanfaatkan maksimal. Beberapa bulan kuliah, ia sudah dipekerjakan sebagai teaching assistant. "Lumayan, saya jadi punya meja," ucapnya riang. Di negeri Paman Sam, ia juga sempat menjadi konsultan theoretical physics di TJNAF/CEBAF (Continous Electron Beam Accelerator Facility), Virginia.
Di College of William & Mary pula, sekitar 1992, ia membaca berita soal Olimpiade Fisika Internasional. "Kok Indonesia belum pernah ikut, ya, padahal kegiatan itu sudah ada sejak 1967," batinnya bertanya. Segera Yo mengajak rekannya, Agus Ananda membidani kelahiran Tim Olimpiade Fisika Indonesia. Setelah diadakan seleksi di UI, terpilih lima siswa yang akan di-training selama dua bulan di AS.
Pada keikutsertaan pertama ini, kebetulan diselenggarakan di AS, tim darurat bikinan Yo meraih satu perunggu. "Lumayan. Langsung dapat medali," bilang penulis 68 buku (30 diantaranya sudah diterbitkan). Sayang, pada tahun berikutnya di Cina, bertepatan dengan kesibukan Yo mengerjakan tesis, Tim Indonesia pulang tanpa membawa satu medali pun.
November 1994, Yo mendapat greencard untuk tinggal dan bekerja di Amerika. Namun, mimpi mengharumkan nama bangsa lewat fisika terus menggoda. "Saya merasa sangat terpanggil," ujarnya serius. Tahun 1998 ia balik ke Tanah Air. "Sempat jadi calon PNS, yang gajinya Rp 65.000,- sebulan. Buat taksi sekali jalan, dari rumah di Bekasi ke Salemba dan Depok saja udah habis," kenang lelaki yang kini tinggal di Lippo Karawaci, Tangerang itu.
Meski menghadapi tantangan berat, kiprah Yo pantang surut. Pada Olimpiade Fisika Internasional 1995 di Australia, anak-anak asuhnya mempersembahkan satu perak. Pria yang mengaku menghabiskan Rp 40 juta per tahun untuk membeli buku ini pun mulai yakin, datangnya medali emas cuma soal waktu. Penyuka buku-buku fisika, ekonomi, sosial, kependudukan, dan fiksi ilmiah ini juga mulai rajin menggugah kepedulian Depdiknas.
Toh hingga Olimpiade 1996 di Kanada dan 1997 di Norwegia, TOFI masih berkutat pada raihan perak dan perunggu. Sedangkan 1998, aktivitas terhenti sama sekali lantaran kerusuhan Mei yang meluluhlantakkan Jakarta. "Banyak orang mulai mengejek, emasnya mana?" sambung Yo lirih. Tahun 1999, ia mulai gemas, menantang Depdiknas membiayai training anak-anak asuhnya selama tujuh bulan penuh. Hasilnya luar biasa, TOFI pulang menggondol satu emas, satu perak, dan dua perunggu.
Sejak itu, prestasi TOFI kian bersinar. Puncaknya, seperti disebut di muka tadi. "Di Asia, kita berhasil menggeser Taiwan. Merekalah selama ini saingan berat kita," papar Yo bangga.
Bapak fisika Indonesia ?
,,Yo adalah fisika. Begitu pasti komentar mereka yang dekat dengan kolumnis di sejumlah media massa ini. Maklum, hampir seluruh umur dosen Universitas Pelita Harapan, Karawaci, ini didedikasikan buat ilmu fisika. Selain memotivasi masyarakat umum lewat media, Yo juga menulis berbagai buku ringan untuk murid SD, SMP, dan SMU. Agar fisika tak lagi dipandang sebagai zombie yang menakutkan. "Mereka tak hanya mempelajari, tapi juga menikmati rumus-rumus," sambung pengurus Himpunan Fisika Indonesia (HFI) ini.
Ia bahkan sudah mempersiapkan sistem baku untuk menggembleng calon fisikawan masa depan. "Siapa pun kelak yang menggantikan saya, TOFI akan tetap mendapat emas," janjinya penuh semangat. Konon, buku pegangan training untuk peserta olimpiade fisika itu disiapkan selama 10 tahun. "Soal-soalnya selevel dengan apa yang dipelajari di program S2," imbuh Yo.
Anggota Dewan Kurator Museum Iptek TMII ini juga giat memperkaya pengetahuan fisikanya. Kini ia tengah gandrung pada Fisika Keuangan, yang menghubungkan fisika dengan ilmu ekonomi. Ilmu ini baru berkembang tahun 1994. "Saya sendiri mulai tertarik sejak 2001," tegas Yo. Salah satu manfaat yang ia temukan adalah rumus-rumus untuk memprediksi fluktuasi harga saham, sekaligus memprakirakan trend pasar modal.
Konon, banyak yang bisa diotak-atik dari rumus-rumus fisika. "Misalnya, formula Black & Scholes yang banyak digunakan dalam ilmu ekonomi, ternyata sama dengan rumus perpindahan aliran panas di fisika," jelas Ketua Panitia Olimpiade Fisika Asia I tahun 2000 di Karawaci ini. Masih kata Yo, sejatinya ilmu ekonomi memang banyak menggunakan rumus fisika. Tapi para ekonom banyak yang enggak tahu dari mana asal rumus itu.
Ilmu Fisika juga bisa diaplikasikan pada ilmu sosial. "Air yang dipanaskan, tekanannya meninggi. Pada saat itulah air berada pada kondisi kritis. Kalau suhunya dinaikkan sedikit saja, langsung jadi gas yang ringan sekali. Massa jenisnya mungkin hanya sekitar 0,01. Tapi diturunkan sedikit, menjadi air yang massa jenisnya jauh lebih besar. Jika digrafikkan, akan ketemu rumus 1/t (t menunjukkan suhu - Red.)."
"Nah, di ilmu sosial, jika kita menggambarkan grafik penduduk kota-kota, mulai dari yang terbanyak penduduknya hingga terkecil, juga akan menciptakan grafik seperti rumus 1/t di fisika. Ini menjadi bukti, berbagai data ilmu sosial dapat diaplikasikan ke dalam rumus-rumus fisika. Sekaligus menunjukkan, fisika punya banyak rumus dan model. Tapi kurang data seperti yang dimiliki ilmu ekonomi atau sosial," jelas Yo.
Bapak yang suka bermain dengan dua putrinya itu juga kerap berfisika ria dalam keluarga. Sampai-sampai, ada episode tertentu yang dihafal sang anak di luar kepala. Saat di atas kendaraan misalnya, Rebecca dan Marie sudah paham adanya dorongan ke arah berlawanan saat mobil hendak belok. "Namanya gaya sentrifugal, 'kan?" celetuk mereka. Marie bahkan punya lelucon yang pasti kurang nyambung dengan anak seusianya.
Kata bocah empat tahun itu, di dunia ini hanya ada tiga orang Marie yang pernah menerima hadiah Nobel. Yang pertama, Marie Curie, kemudian Marie Goepert Meyer. Yang ketiga? Ya, Marie Felicia, putrinya Yohanes Surya, he.. he.. he.... Sejatinya, hampir seluruh aktivitas santai Yo bersama keluarga memang berbau fisika. Tak heran kalau anaknya yang paling besar, Rebecca bercita-cita jadi fisikawati.
Buat Yo, dekat dengan anak-anak merupakan keharusan
"Mereka itu investasi buat masa depan. Di zaman mereka nanti, uang sekolah makin mahal. Kalau mereka pintar dan dapat beasiswa, 'kan meringankan beban?" Itu sebabnya, dia merasa lebih baik meluangkan waktu untuk anak-anak, ketimbang cari duit enggak karuan.
Omong-omong, tak adakah hal lain di benak Yo selain fisika dan fisika? Hmm, jawabnya tak kalah seram: matematika! Uniknya, penampilan Presiden Olimpiade Fisika Asia ini tak terlihat seperti ilmuwan yang kebanyakan bermain rumus, dengan ciri kepala botaknya. Yo tampak santai dan jauh lebih muda dari usianya. "Saya selalu berusaha hidup secukupnya. Tak mau memikirkan yang aneh-aneh. Paling penting, kalau kita banyak menolong sesama, bakal didoakan banyak orang," jelasnya.
Selain fisika dan matematika, Yo memang tak punya banyak hobi lain. Membaca bisa menenggelamkannya berjam-jam, di samping bermain sambil mengajari anak-anaknya fisika. Waktu luangnya, mulai pukul 21.00 - 01.00 digunakan untuk menulis buku dan artikel. Olahraganya hanya jalan kaki dari rumah ke kampus yang letaknya tak jauh. Waktu tidurnya rata-rata empat jam sehari. "Setiap pagi saya minum jus empat buah apel, plus segelas susu," tutur Yo.
Ia mengaku tak pernah makan suplemen untuk memperkuat otak. "Buat saya, otak itu seperti pisau, makin sering diasah, makin tajam." Membaca merupakan salah satu cara mengasah otak. Konon, Yo dapat "melumat" buku ratusan halaman berbahasa Inggris hanya dalam waktu empat jam!
Dengan dedikasi dan jasa demikian besar buat perkembangan ilmu fisika di Indonesia, keberatankah jika orang menjuluki Anda Bapak Fisika Indonesia? Yo cuma tertawa sembari menukas, "Janganlah. Itu terlalu tinggi. Saya hanya fasilitator. Saya cukup senang ada anak-anak yang mendapat emas, bahkan Nobel," bilangnya mantap. Yo mengaku menikmati betul posisi dan peran yang disandangnya kini. "Tiap orang harus punya kesadaran itu," tutupnya, sedikit berfilosofi.
Begitulah Yo. Seperti padi, tak pernah teriak-teriak meski saban hari memberi makan separuh lebih penduduk Bumi.
Sumber : Intisari (Agustus 2003)

No comments: